04 Maret 2013

Cerpen Takkan Pernah Terwujud


TAKKAN PERNAH TERWUJUD
Karya Pandu Agus Setiawan

Seperti biasanya, Bimo duduk di depan kelasnya. Namun, kali ini ia sambil termenung, merasakan betapa sakitnya patah hati. Sebelumnya, Bimo selalu ceria karena selalu ada cinta yang dia harapkan. Tapi semua itu sirna, saat Bimo mengetahui apa yang terjadi.

Cinta itu adalah Maya, teman satu kelas Bimo. Maya merupakan gadis yang cantik jelita dan baik hati. Tapi tidak menurut Bimo. Hal itu dikarenakan Maya telah melenyapkan semua harapan Bimo untuk selalu bisa bersamanya. Bimo sudah membulatkan niatnya untuk tidak mau mengenal lagi apa itu cinta saat-saat ini.
“Bim, ngelamun aja lu, kemaren kucing tetangga gue mati tuh.” suara Ari membuyarkan lamunan Bimo,
“Gara-gara bengong?”, tanya Bimo.
“Gak, gara-gara yang punya lupa ngasih makan, hehehe.” canda Ari.
“Yeh oncom.” kata Bimo. Beberapa saat kemudian bel pun berbunyi, mereka berdua masuk ke dalam kelas.

Bimo tak bisa berhenti memikirkan akan kisah cintanya yang tak pernah terwujud. Entah apa yang membuat semua kenangan indah bersama Maya tidak bisa ia lupakan. Kini Bimo mengerti akan apa itu cinta, dan bagaimana rasanya patah hati. Tapi meskipun sedang gundah gulana, Bimo selalu mengatakan pada dirinya,
“Gue mesti Move On!”, hanya kata-kata itu yang selalu bisa membuat Bimo merasa lebih tenang.
***

Pagi itu, seperti biasa Bimo merasakan kesepian yang mendalam. Lagi-lagi Bimo teringat akan sosok Maya.
“Ngapain gue mikirin dia mulu sih?” ucap Bimo. Semua itu terjadi ketika setahun yang lalu, pada suatu sore saat tiba-tiba telepon genggam milik Bimo bergetar. Rupanya sebuah pesan dari Maya. Lama-kelamaan mereka berdua makin dekat hingga timbulah benih-benih cinta di antara mereka.

Bimo berniat mengutarakan perasaannya pada Maya, tapi Maya mengatakan itu tidak mungkin.
“Kenapa gak mungkin?” tanya Bimo pada Maya. Maya menceritakan semua masa lalunya pada Bimo, namu semua itu tetap tidak memutuskan harapan Bimo untuk bersama Maya. Setiap hari kedekatan mereka berdua makin dekat, dan perasaan mereka berdua pun makin menjadi-jadi. Mereka berdua menjalani hubungan tanpa status selama berbulan-bulan. Banyak peristiwa-peristiwa indah yang mereka lalui berdua.

Tidak banyak yang tahu akan hubungan Bimo dan Maya yang sebenarnya. Banyak yang mengira mereka berdua telah menjadi sepasang kekasih, namun semua itu tidak benar. Bahkan teman-teman dekat mereka pun juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semua hal-hal pahit yang dirasakan Maya dimasa lalu yang ia ceritakan pada Bimo membuat hatinya tersayat perih. Ya, semua memori kelam akan kisah percintaan Maya dan mantan kekasihnya.
“Gue akan terima lu apa adanya, gue gak peduli dengan masa lalu lu, yang gue peduliin itu cuma lu!” kata-kata Bimo yang selalu diucapkan pada Maya.
Mungkin hati Maya saat ini sedang bingung untuk memilih antara Bimo atau mantan kekasihnya.

Hari-hari berlalu, hinga suatu hari, Maya memutuskan untuk memilih mantan kekasihnya, hal itu membuat Bimo kecewa, namun ia masih mengharapkan Maya kan datang padanya.
“Jauhin gue, Bim. Gue ga pantes buat lu.” ucap Maya.
“Gak, gue gak akan menjauh dari lu, karena semua itu teramat sulit buat gue.” jawab Bimo.
“Gue sayang sama lu Bim, tapi gue gak mungkin lepas dari dia. Lu tahu itu kan?”
“Gue tahu, tapi lu itu adalah semangat gue, gue gak akan bisa jalanin ini semua tanpa lu!” ucap Bimo.
Meskipun Maya telah memilih mantan kekasihnya, namun hubungan Maya dan Bimo masih sedekat dulu. Bahkan saat ini hubungan mereka sudah lebih dekat dibanding sebelumnya. Hingga suatu hari, Maya menjahi Bimo, tanpa berbicara sama sekali. Bimo yang merasakan ada yang tidak benar dengan keadaan itu, mulai mencoba mencari tahu. Akhirnya semua terbongkar, Bimo tahu apa yang terjadi. Dan kali ini, Bimo benar-benar tidak bisa menahan sakit hatinya, yang sudah termat dalam.
“Kalo ini emang kemauan lu Bim, gue terima.” ucap Maya.
“Ini semua bukan kemauan hati gue atau gue sendiri.” Jawab Bimo.
“Tapi ini semua berjalan dengan sendirinya, mungkin gue akan benar-benar pergi dan gak akan kembali lagi dikehidupan lu. Gue gak akan ganggu hidup lu lagi.”
“Maafin gue Bim, gue udah buat lu kaya gini, makasih buat semua yang udah lu lakuin buat gue. Gue gak bisa balas itu semua.” Ucapan terakhir yang terlontarkan dari mulut Maya kepada Bimo.
Sangat sulit bagi Bimo untuk pergi dari Maya, namun Bimo sudah sangat kecewa dan terlanjur patah hati akan keputusan yang dibuat Maya kali ini.

Semua itu kini tinggalah kenangan. Sudah tidak ada lagi cerita-cerita indah bersama Maya. Bagi Bimo, Maya telah banyak mengajarkan apa itu cinta, dan bagaimana caranya untuk bisa mempertahankan cinta itu.

Bimo masih terus mencoba untuk melupakan Maya, dan membuang semua kenangan-kenangan indah itu. Bimo masih bersyukur karena masih ada teman-temannya yang selalu siap menjadi penghibur bagi Bimo disaat dia merasa sedih. Meskipun tanpa kehadiran Maya dikehidupan Bimo lagi.

Bagi Bimo kini yang terpenting adalah menyelesaikan sekolahnya dan lulus untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Dia pasrahkan semua urusan percintaannya kepada Tuhan dan tidak ingin memikirkannya saat ini.


0 komentar:

Posting Komentar